Penembakan Freeport: Cerita Mantan Kuli

Dua hari terakhir, berita media diisi peristiwa penembakan di area pertambangan PT Freeport Indonesia. Tentunya ucapan turut berduka perlu disampaikan kepada semua korban penembakan.

Sebagai mantan kuli yang pernah nyangkul disana, saya mengenal betul jalan-jalan pegunungan tempat mereka disergap. Jalan ini menjadi jalan wajib saat berangkat dan kembali cuti, tentu dengan membawa perasaan yang beda pula, ceria-bahagia dan enggan-cemberut.

Tembagapura, kota tambang tempat karyawan tinggal berada jauh di ketinggian, lebih dari 2000 meter diatas permukaan laut. Tempat yang selalu berkabut dan hampir tiap hari diguyur hujan.

Tak ada kota lain di sekeliling Tembagapura, melainkan hanya barisan pegunungan dan lembah. Timika merupakan kota terdekat, dibutuhkan sekira 2 jam perjalanan menuju kesana.

Di Timika inilah terdapat kehidupan kota normal. Disana pula terdapat bandara, akses untuk keluar masuk semua karyawan. Karyawan yang tidak mendapat jatah perumahan keluarga di Tembagapura, banyak yang memboyong keluarganya ke Timika.

Tembagapura

Tembagapura

Tembagapura dan Timika dihubungkan dengan jalan tanah yang menyusuri punggung pegunungan. Di satu sisi jalan terbentang lembah dalam dan berkelok, di sisi lain berdiri tegak dinding batu gunung.

Dengan kondisi seperti itu memang jadi tempat ideal bagi penyergap. Setelah melepaskan tembakan, para gerombolan dengan mudah dapat menyelinap di kelokan lembah atau ke sela pegunungan.

Dengan lokasi yang begitu menantang, tak salah jika Freeport dianggap sebagai salah satu “the most challenging mine in the world”. Bisa dibayangkan bagaimana para perintis dulu memulai membuka jalan, berusaha menaklukkan tantangan alam yang begitu dahsyat.

Penembakan tempo hari meninggalkan beberapa kemungkinan: masih ada masalah terpendam yang memicu atau ini hanya perbuatan sporadis tanpa sebab. Namun apapun itu, menembaki mobil secara acak tetap tidak bisa dibenarkan.[]

Tulisan terkait:


Tinggalkan Balasan